Monday, November 2, 2009

Gentar ku ..

Gentar yang kurasakan hanya jika kau lupa janji-janjimu...

Gentar yang kurasakan jika merahnya membiru beku

Gentar yang kurasakan jika kita lupa bahasa kita

Gentar yang kurasakan hanya jika kau tak lagi mendengar bisik lirih hatimu ..


Gentar ku menjadi....... dalam kandungan bulan-bulan bertema hujan

Gentar ku memuncak dalam diammu yang tak berujung...

Ah sayang... elus dadaku , kirimkan berita lewat daunan saja

Sampaikan kepada mereka Kau akan kembali..

Sampaikan kepada mereka untukku bersabar dalam dekapan panjang hangat mimpi kita

Sampaikan kepada mereka untukku , ‘cukup jaga hatiku saja’

Sampaikan kepada mereka untukku, ‘jangan gentar saja!’




*tersenyumlah bersama bunyi klik di depanmu dan gentarku pun menguap

Sunday, November 1, 2009

Aku disini ...

Aku disini....

Tidak tidak ingin bicarakan bulan demi bulan

Tidak tidak ingin bicarakan apa yang kita lewatkan

Aku disini...

Cukup sudah jika kau dapat merasakan


Aku disini....

Tidak tidak ingin menghitung hutang piutang rasa kita

Tidak tidak ingin mendorongmu lebih jauh ke gua asa

Aku disini....

Cukup sudah jika kita ber-asa bersama


Aku disini....

Tidak tidak berarti karena musim penghujan datang

Tidak tidak berarti kala sang mentari menjelang aku pun hilang

Aku disini....

Untuk bersamamu pulang


Aku disini....

Karena kau disini

Aku disini...

Karena kau juga menepi

Aku disini ....

Bukan bukan untuk berkata-kata hanya sekedar menyesuaikan bahasa

Aku disini karena bahasaku adalah terjemahanmu

Aku disini karena rasaku adalah motor jiwamu

Aku disini karena bukan alasan yang dititipkan dalam roman buku usang

Aku disini karena aku telah pulang....

Sunday, May 24, 2009

Mengapa Pindah ??

Mengapa pindah jika kicau burungnya masih kau nanti
mengapa pindah jika biru langitnya masih sama
mengapa pindah jika disinilah kau merasa pulang?
Mengapa???

**Mungkin kau bisa temukan jawabnya di sini


"Selamat datang ... "

Thursday, April 16, 2009

Biarkan Saja

Mengepak dan merapuh,
Biarkan saja...
Terkadang merapuh memang jawabnya
Terkadang membiru memang warnanya
Terkadang sang mentari tak jua mengufuk di Barat
Biarkan saja ...

Sunday, March 22, 2009

Dan bicaralah kepada Bulan

Dan bicaralah kepada bulan
Diantara tandus permukaan dan taburan gugusan bintang
Dan bicaralah kepada bulan
Diantara ringkih udara tak terengkuh langit

Berdirilah disana
Selayaknya sedang membaca sebuah berita
Selayaknya sedang menunggu gugusnya merekah
Diantara deru, debu-debu yang menyapu

Dan bicaralah kepada bulan
Tentang batu kecil di hatimu
Tentang rumput harapan di sekeliling jiwamu
Tentang ilmu membaca yang bergumul di dalam kepalamu

Di bulan ...
Kering melemah suaraku
Hilang menyayup laguku
Pupus menguap jejakku
Di bulan ....
Tergantung sejuta tanyaku
Mengabur semua petaku

Dan bicaralah kepada bulan
Bagaimana tlah menguning langit asaku
Dan menyerah aku kepada simpang

Tuesday, March 17, 2009

Kali ini biarkan loncengnya tak terdera

Kali ini biarkan loncengnya tak terdera
Karena kita tau, dentangnya hanya memekakkan telinga
Memekik suara yang terus membuat kita bertanya
Inikah jalan kita?

Kali ini biarkan loncengnya tak terdera
Dan biarkan aku bertanya diantara pelarianku
Dan biarkan engkau bertanya diantara tidur malammu
Benarkah ini kita?

Kali ini biarkan loncengnya tak terdera
Biarkan aku tenggelam dalam koma ku
Dan biarkan engkau terbenam dalam titikmu
Ini bukan lagi kita

Kali ini biarkan loncengnya tak terdera
Toh percuma…
Karena menuli lah kita akhirnya
Percuma dia berteriak disana…

-wd-

Ini bukan kita - - - > dedicated to

My dearest friend,
Tak taukah engkau, setitik lubang di sudut matamu
Adalah mata air yang mengalir bak sungai tak bermuara
Sungai penghias jalan hidupmu
Tak akan habis sumbernya
Tak akan habis ceritanya

My dearest friend,
Mengapa kau tunggu muara yang tak pernah ada
Jika saja kegenapan adalah jiwamu
Mengapa keganjilan yang kau harapkan dari jiwa lain?

My dearest friend,
Tak akan lari gunung dikejar
Juga…
Jangan memeluk gunung yang tak terlingkari oleh sebelah lenganmu
Bukankah kita telah lelah
Bukankah kita selalu punya jawabannya
Bukankah kita selalu tahu harus berada di sisi yang mana

My dearest friend,
Malam ini, tak mampu lagi kita menitikkan air mata
Menjentikkan kata-kata, melengkungkan harapan kita
Kita sudah tak sanggup, kita sudah mencukupkan


My dearest friend,
Malam ini, kuhitung decakan cicak di dinding hotelku
Bahkan ia mampu berhenti setelah berhitung
Bukankah ada kalanya kita juga harus begitu?
Berhenti saat kita tersesat?
Memilih saat kita di simpang ?

My dearest friend,
Kalau petamu sudah usang, mengapa meributkan peta siapa yang harus kita pakai?
ah, kau tau, di balik dinding , tembok, jaring, terali, apa saja
apakah saat ini kau akan menyerah dengan itu semua?
Dengan musuh paling besar yang kita pelihara?
Dengan jiwa yang luka?

Kau masih punya lenganku
Kita tak akan menyerpih …


Dedicated to : for the one who has river in her eyes and flame in her heart, let’s breathing…